PENALARAN ILMIAH
A. PENGERTIAN PENALARAN
Penalaran
(reasioning) adalah suatu proses berpikir secara sistematik dan logis
berdasarkan bukti, fakta atau petunjuk sehingga memperoleh suatu kesimpulan.
Bahan pengambilan kesimpulan itu dapat berupa fakta, informasi, pengalaman,
atau pendapat para ahli (otoritas). Tujuan dari penalaran adalah untuk
menentukan secara logis atau objektif, apakah yang kita lakukan itu benar atau
tidak sehingga dapat dilaksanakan.
Ciri
– Ciri Penalaran :
1. Adanya suatu pola pikir
yang secara luas di sebut logika.
2. Sifat analitik dari
proses berfikir. Analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan berfikir
berdasarkan langkah – langkah tertentu.
3. Menghasilakan
kesimpulan berupa pengetahuan,keputusan atau sikap yang baru.
4. Premis berupa
pengalaman atau pengetahuan, bahkan teori yang telah di peroleh.
Ada
dua jenis penalaran secara umum :
1. Penalaran
Deduktif
Penalaran
deduktif merupakan penalaran yang beralur dari pernyataan-pernyataan yang
bersifat umum menuju pada penyimpulan yang bersifat khusus. Pada penalaran
deduktif menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya
dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Contoh
Penalaran Deduktif :
-
televisi adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk
beroperasi.
-
komputer adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk
beroperasi.
Kesimpulannya
: semua barang elektronik membutuhkan daya listrik untuk beroperasi
Contoh
lain :
Cuaca
hari ini sangat terik, ditambah lagi dengan angin sehingga siang hari menjadi
panas, dan berdebu. Akibatnya banyak orang baik itu orang dewasa maupun
anak-anak yang mengalami sakit influenza, panas dalam, demam, bahkan dehidrasi
dan ISPA (Infeksi saluran Pernafasan).
Macam-macam
penalaran deduktif diantaranya :
a. Silogisme
Silogisme
adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun
dari dua proposi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Dengan fakta
lain bahwa silogisme adalah rangkaian 3 buah pendapat, yang terdiri dari 2
pendapat dan 1 kesimpulan.
b. Entimen
Entimen
adalah penalaran deduksi secara langsung. Dan dapat dikatakan pula silogisme
premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
2. Penalaran
Induktif
Penalaran
induktif adalah proses berpikir untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau
sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus.
Prosesnya disebut induksi.
Contoh
penalaran induktif :
Harimau
berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. Babi berdaun telinga
berkembang biak dengan melahirkan. Ikan paus berdaun telinga berkembang biak
dengan melahirkan.
Kesimpulan
: semua hewan yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.
Macam-macam
penalaran induktif diantaranya :
a. Generalisasi
Generalisasi
adalah pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian besar gejala yang
diminati generalisasi mencakup ciri – ciri esensial, bukan rincian. Dalam
pengembangan karangan, generalisasi dibuktikan dengan fakta, contoh, data statistik,
dan lain-lain.
Macam-macam
generalisasi:
1. Generalisasi sempurna
Adalah
generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penimpulan diselidiki.
Generalisasi macam ini memberikan kesimpilan amat kuat dan tidak dapat
diserang. Tetapi tetap saja yang belum diselidiki.
2. Generalisasi tidak sempurna
Adalah
generalisasi berdasarkan sebagian fenomena untuk mendapatkan kesimpulan yang
berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki.
b.
Analogy
Analogy
adalah membandingkan dua hal yang banyak persamaannya. Kesimpulan yan diambil
dengan jalan analogy, yakni kesimpulan dari pendapat khusus dari beberapa
pendapat khusus yang lainnya, dengan cara membandingkan situasi yang satu
dengan yang sebelumnya.
Dapat
dikatakan bahwa penalaran analogy adalah proses membandingkan dari dua hal yang
berlainan berdasarkan kesamaannya itu ditarik kesimpulan.
c.
Hubungan sebab akibat
Hubungan
sebab akibat merupakan proses berfikir dengan bertolak dari suatu peristiwa
yang dianggap sebagai akibat, kemudian bergerak menuju sebab-sebab yang mungkin
telah menimbulkan akibat tadi.
B. PROPOSISI
Proposisi
adalah pernyataan tentang hubungan yang terdapat di antara subjek dan predikat.
Dengan kata lain, proposisi adalah pernyataan yang lengkap dalam bentuk
subjek-predikat atau term-term yang membentuk kalimat. Kaliimat Tanya, kalimat perintah,
kalimat harapan, dan kalimat inversi tidak dapat disebut proposisi. Hanya
kalimat berita yang netral yang dapat disebut proposisi. Tetapi kalimat-kalimat
itu dapat dijadikan proposisi apabila diubah bentuknya menjadi kalimat berita
yang netral.
Jenis-jenis
proporsi yaitu :
1. Berdasarkan
Bentuk
Berdasarkan
bentuk dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
a. Tunggal
adalah proposisi yang terdiri dari satu subjek dan satu predikat atau hanya
mengandung satu pernyataan.
Contoh
:
Semua
petani harus bekerja keras.
Setiap
pemuda adalah calon pemimpin
b. Majemuk atau jamak
adalah proposisi yang terdiri dari satu subjek dan lebih dari satu predikat.
Contoh
:
Semua
petani harus bekerja keras dan hemat.
Paman
bernyanyi dan menari.
2. Berdasarkan
Sifat
Berdasarkan
sifat, proporsisi dapat dibagi ke dalam 2 jenis, yaitu:
a. Kategorial
adalah proposisi yang hubungan antara subjek dan predikatnya tidak membutuhkan
/ memerlukan syarat apapun.
Contoh:
Semua
kursi di ruangan ini pasti berwarna coklat.
Semua
daun pasti berwarna hijau.
b. Kondisional adalah
proposisi yang membutuhkan syarat tertentu di dalam hubungan subjek dan
predikatnya. Proposisi dapat dibedakan ke dalam 2 jenis, yaitu: proposisi
kondisional hipotesis dan disjungtif.
Contoh
proposisi kondisional : Jika hari mendung maka akan turun hujan
Contoh
proposisi kondisional hipotesis : Jika harga BBM turun maka rakyat akan
bergembira.
Contoh
proposisi kondisional disjungtif : Christiano ronaldo pemain bola atau bintang
iklan.
3. Berdasarkan
Kualitas
Proposisi
ini juga dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
a. Positif (afirmatif) :
proposisi yang membenarkan adanya persesuaian hubungan antar subjek dan
predikat.
Contoh:
Semua
dokter adalah orang pintar
Sebagian
manusia adalah bersifat sosial
b. Negatif : proposisi
yang menyatakan bahawa antara subjek dan predikat tidak mempunyai hubungan.
Contoh:
Semua
harimau bukanlah singa
Tidak
ada seorang lelaki pun yang mengenakan rok
4. Berdasarkan
Kuantitas
proposisi
dapat dibedakan ke dalam 2 jenis, yaitu:
a. Umum : Predikat
proposisi membenarkan atau mengingkari seluruh subjek.
Contoh:
Semua
gajah bukanlah kera
Tidak
seekor gajah pun adalah kera
b. Khusus : predikat
proposisi hanya membenarkan atau mengingkari sebagian subjeknya.
Contoh:
Sebagian
mahasiswa gemar olahraga
Tidak
semua mahasiswa pandai bernyanyi
C. INFERENSI DAN
IMPLIKASI
Inferensi adalah tindakan atau proses yang berasal
kesimpulan logis dari premis-premis yang diketahui atau dianggap benar.
Kesimpulan yang ditarik juga disebut sebagai idiomatik. Hukum valid inference
dipelajari dalam bidang logika. Inferensi manusia (yaitu bagaimana manusia
menarik kesimpulan).
Jenis-jenis inferensi
1.
Inferensi Langsung : Inferensi yang kesimpulannya ditarik dari hanya
satu premis (proposisi yang digunakan untuk penarikan kesimpulan). Konklusi
yang ditarik tidak boleh lebih luas dari premisnya.
Contoh Inferensia Langsung : Pohon yang di
tanam pak Budi setahun lalu hidup.
(Dari premis tersebut dapat kita lansung menari
kesimpulan (inferensi) bahwa: pohon yang ditanam pak budi setahun yang lalu
tidak mati).
2.
Inferensi Tak Langsung : Inferensi yang kesimpulannya ditarik dari dua
atau lebih premis. Proses akal budi membentuk sebuah proposisi baru atas dasar
penggabungan proposisi-preposisi lama.
Contoh Inferensi Tak Langsung :
A : Saya melihat ke dalam kamar itu.
B : Plafonnya sangat tinggi.
Inferensi yang menjembatani kedua ujaran tersebut
misalnya (C) berikut ini.
C: kamar itu memiliki plafon
Definisi Implikasi
Pada dasarnya implikasi bisa kita definisikan
sebagai akibat langsung atau konsekuensi atas temuan hasil suatu penelitian.
Apabila dalam sebuah penelitian kita mempunyai kesimpulan misalnya
"A", "Manusia itu bernafas". Maka "Manusia itu
bernafas" yang kita sebut dengan implikasi penelitian. Untuk contohnya,
dalam hasil penelitian kita menemukan bahwa siswa yang di ajar dengan metode
"A" lebih kreatif serta memiliki skill yang lebih baik. Dengan
demikian dengan menggunakan metode belajar "A" kita bisa mengharapkan
siswa menjadi lebih kreatif dan juga memiliki skill yang baik.
D. WUJUD
EVIDENSI
Unsur yang paling penting dalam suatu tulisan
argumentatif adalah evidensi. Pada hakikatnya evidensi adalah semua
fakta yang ada, semua kesaksian, semua informasi, atau autoritas, dan
sebagainya yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan suatu kebenaran. Fakta
dalam kedudukan sebagai evidensi tidak boleh dicampur-adukkan dengan apa
yang dikenal dengan pernyataan dan penegasan. Pernyataan tidak berpengaruh
apa-apa pada evidensi, ia hanya sekedar menegaskan apakah suatu fakta itu benar
atau tidak. Dalam wujud yang paling rendah evidensi itu berbentuk data atau
informasi. Yang dimaksud dengan data atau informasi adalah bahan keterangan
yang diperoleh dari suatu sumber tertentu.
E. CARA MENGUJI
DATA
Data dan informasi yang digunakan dalam penalaran
harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui cara
tertentu sehingga bahan yang merupakan fakta itu siap digunakan sebagai
evidensi. Dibawah ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk pengujian
tersebut.
a.
Observasi
Fakta-fakta yanag telah diajukan sebagai evidensi
mungkin belum memuaskan seseorang pengarang atau penulis. Untuk lebih
meyakinkan dirinya sendiri dan sekaligus dapat menggunakannya sebaik-baiknya
dalam usaha menyakinkan para pembaca, maka kadang-kadang pengarang merasa perlu
untuk mengadakan peninjauan atau observasi singkat untuk mengecek data atau
informasi itu dan sesungguhnya dalam beberapa banyak hal pernyataan-pernyataan
yang diberikan oleh seseorang, biasanya didasarkan pula atas observasi yang
telah diadakan.
b.
Kesaksian
Keharusan menguji data dan informasi, tidak selalu
harus diakukan dengan observasi. Kadang-kadang sangat sulit untuk mengharuskan
seseorang mengadakan observasi atas obyek yang akan dibicarakan. Kesulitan itu
terjadi karena waktu, tempat, dan biaya yang harus di keluarkan. Untuk
mengatasi hal itu penulis atau pengarang dapat melakukan pengujian dan meminta
kesaksian atau keterangan dari orang lain, yang telah mengalami sendiri atau
menyelidiki sendiri persoalan itu. Demikian pula halnya dengan penulis dan
pengarang atau penulis, untuk memperkuat evidensinya mereka dapat mempergunakan
kesaksian orang lain yang telah mengalami peristiwa tersebut.
c.
Autoritas
Cara ketiga yang dapat dipergunakan untuk menguji
fakta dalam usaha menyusun evidensi adalah meminta pendapat dari suatu
autoritas, yakni pendapat dari seorang ahli, atau mereka yang telah menyelidiki
fakta-fakta itu dengan cermat, memperhatikan semua kesaksian, menilai semua
fakta kemudian memberikan pendapat mereka sesuai dengan keahlian mereka dalam
bidang itu.
F. CARA MENILAI AUTORITAS
Penulis yang baik akan membedakan
pula apa yang hanya merupakan pendapat saja atau pendapat yang sungguh-sungguh
didasarkan atas penelitian atau data eksperimental.
Melalui
penilaian sebagai berikut :
a. Tidak Mengandung Prasangka
: Dasar pertama yang perlu diketahui oleh penulis adalah bahwa pendapat
autoritas sama sekali tidak boleh mengandung prasangka. Yang tidak mengandung
prasangka artinya pendapat itu disusun berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan oleh ahli itu sendiri, atau didasarkan pada hasil-hasil eksperimental
yang dilakukannya. Pengertian tidak mengandung prasangka juga mencakup hal
lain, yaitu bahwa autoritas itu tidak boleh memperoleh keuntungan pribadi dari
data-data eksperimentalnya.
b. Pengalaman dan Pendidikan
Autoritas : Dasar kedua yang harus diperhitungkan penulis
untuk menilai pendapat suatu autoritas adalah menyangkut pengalaman dan
pendidikan autoritas. Pendidikan yang diperolehnya harus dikembangkan lebih
lanjut dalam kegiatan-kegiatan sebagai seorang ahli yang diperoleh melalui
pendidikannya tadi. Walaupun jaman kita ini sudah begitu condong atau cenderung
dengan berbagai macam spesifikasi, namun kita tidak boleh mengabaikan keahlian
seseorang dalam beberapa macam bidang tertentu.
c. Kemashuran dan Prestise
: Faktor ketiga yang harus diperhatikan oleh penulis untuk menilai autoritas
adalah meneliti apakah pernyataan atau pendapat yang akan dikutip sebagai
autoritas itu hanya sekedar bersembunyi di balik kemashuran dan prestise
pribadi di bidang lain.
d. Koherensi dengan Kemajuan
: Hal keempat yang perlu diperhatikan penulis argumentasi adalah apakah
pendapat yang diberikan autoritas itu sejalan dengan perkembangan dan kemajuan
jaman, atau koheren dengan pendapat atau sikap terakhir dalam bidang itu. untuk
memberi evaluasi yang tepat terhadap autoritas yang dikutip, pengarang harus
menyebut nama autoritas, gelar, kedudukatif, dan sumber khusus tempat kutipan
itu dijumpai. Bila mungkin penulis harus mengutip setepat-tepatnya kata-kata
atau kalimat autoritas tersebut. Untuk memperlihatkan bahwa penulis
sungguh-sungguh siap dengan persoalan yang tengah diargumentasikan, maka
sebaiknya seluruh argumentasi itu jangan didasarkan hanya pada satu autoritas.