Sabtu, 10 Agustus 2013

Puisi 1

Ibu

Ibu ...
Kau adalah orang tua sekaligus teman bagiku
Kau adalah tempat dimana aku bisa bercerita
Kau selalu ada dalam suka dukaku

Kau juga pahlawan bagiku ibu
Kau selalu siap siaga untuk melindungiku
Bahkan ketika aku masih berada dalam perutmu
Kau rela membawaku kemanapun

Meski berat yang kau rasakan
Tapi kau tak pernah peduli
Kau selalu mengutamakan aku ibu
Betapa bahagianya aku memiliki kau

Tak ada yang bisa menggantikanmu
Kau sangat berarti bagiku
Amat sangat
Terima kasih ibu

Kasih sayangmu begitu murni
Kau tak pernah mengharapkan balasan
Kau berikan itu secara cuma-cuma
Aku sayang padamu

Kamis, 08 Agustus 2013

Indah Pada Waktunya (eps 4)

"Tania ... ayo bangun sayang sudah siang. Nanti kamu terlambat ke kampus sayang." panggil mama sambil mengetuk pintu kamar Tania
Tania yang mendengar panggilan mamanya itu segera tersadar. "Iya mam uda bangun kok ini." jawab Tania agar mamanya berhenti memanggil
"Ternyata cuma mimpi ya tadi huffff ..." kata Tania pelan dengan kecewa. Dengan lesu ia segera bangkit dari tempat tidurnya dan beranjak menuju kamar mandi.
Setelah selesai bersiap-siap untuk berangkat kampus Tania segera melangkah kebawah menemui mamanya untuk sarapan pagi bareng. Tania memang seperti itu walaupun papanya sudah tidak ada. Ya papanya telah meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya selama ini. Awal kepergian papanya Tania memang terus bersedih tapi sekarang perlahan ia sudah bisa menerima kepergian papanya. Walau terkadang ketika sarapan pagi seperti itu selalu mengingatkannya kembali dengan papanya.
"Yauda ya mam aku pergi kampus dulu. Dah mam ..." kata Tania sambil mengecup pipi mamanya ketika telah selesai sarapan pagi.
Tiba-tiba saja Tania termenung. Tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Jantungnya menjadi berdetak dengan cepat. Astaga, batin Tania dalam hati
"Hei ... Selamat pagi." sapa seorang lelaki sambil mendekati Tania. Ya laki-laki itu adalah Michael. Tania sungguh tak menyangka. "Apa aku masi bermimpi?" tanya Tania dengan dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk pipinya dengan agak keras
AUWWW!!! Tania meringis kesakitan akan ulahnya sendiri. Kini Tania yakin bahwa ia tak sedang bermimpi.
Michael yang melihat tingkah Tania hanya tersenyum saja. "Kamu ga apa-apa kan?" tanya Michael masi dengan senyumannya yang merekah.
"Hm ,,, iya." jawab Tania sangat gugup. Astaga apa yang baru ku lakukan? Pasti Michael illfeel deh, Tania mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
Tania semakin tak percaya ketika tiba-tiba saja Michael menggandeng tangannya. "Ayo berangkat." kata Michael sambil menarik Tania menuju mobilnya.
Tania dengan jantung yang masih berdetak dengan cepat hanya bisa terdiam dan pasrah ditarik seperti itu. Tubuhnya terasa lemas untuk menolak, lagipula memang ini yang Tania sering impikan. Sungguh tak diduga.
Ketika mereka sudah berada dalam mobil, Tania tetap berdiam. Sesekali ia melirik Michael, ia sungguh masih tak percaya.
"Kenapa?" tanya Tania pelan tapi mata nya tertuju pada mata Michael. Mereka sudah saling berpandangan.
"Entah mungkin ini terlihat bodoh tapi aku memimpikanmu Tania." jawab Michael sambil menatap balik mata Tania. Reflek saja Tania menjadi salah tingkah. Ia hanya tersenyum mendengar jawaban Michael.
"Sejujurnya saja aku juga memimpikanmu Michael." kata Tania pelan dengan kepala yang tertunduk. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
"Serius?" tanya Michael untuk memastikan karena ia sendiri tak percaya
Tania hanya mengangguk tanda mengiyakan. Mukanya menjadi merah. Apakah ini takdir? tanya Tania terus-menerus dengan hatinya
Suasana menjadi hening ...
Michael mencoba memberanikan diri untuk memegang tangan Tania. Ia menggenggamnya dengan penuh perasaan.
"Tania ..." kata Michael dengan hati-hati
Tania perlahan menoleh melihat mata pria itu, "Iya?"
"Aku suka kamu." Michael menatap mata Tania sangat dalam. Tania melihat kejujuran dimata itu.
Lagi-lagi Tania tertunduk dan diam.
"Kenapa? Apa kamu ga suka aku?" tanya Michael dengan nada yang terdengar begitu lemah
Tania tetap terdiam dan tiba-tiba saja air matanya jatuh. Michael merasakan air mata itu jatuh ditangannya. Ia tak mengerti kenapa Tania menangis.
"Kenapa? Kamu kok nangis?" tanya Michael hati-hati
"Ini tangis bahagia." jawab Tania sambil perlahan melihat pria itu lagi.
"Aku sudah menyukai kamu sejak dulu. Sudah lama sekali." sambung Tania lagi dengan senyuman yang sangat merekah
"Benarkah?" tanya Michael tak percaya. Ia sungguh bahagia, ia tak menyangka Tania bisa menyimpan perasaan untuknya selama itu. Sangking bahagianya Michael langsung memeluk Tania dengan penuh kasih.
Tania terkejut tetapi ia tak melawan. Ia senang karena sekarang pria yang ia sukai dari dulu sudah datang padanya. Entah apa alasannya Tania sungguh tak peduli. Yang pasti ia percaya bahwa ini adalah takdirnya. Indah pada waktunya ...


Tamat !!!

Selasa, 06 Agustus 2013

Indah Pada Waktunya (eps 3)

Michael yang melihat Elisa dari kejauhan langsung mengejarnya.
"Elisa ... tunggu!" Michael seakan lupa kalo dirinya sedang bersama Tania. Ia berlari secepat yang ia bisa agar wanita itu dapat dikejarnya. Tapi siapa yang duga ternyata wanita itu telah hilang lebih dulu. Entah bersembunyi atau memang larinya yang begitu cepat, Michael tak tahu.
Tania yang melihat tingkah Michael seperti itu rasanya sudah mulai paham. Wanita itu pasti kekasihnya, gumam Tania dalam hati. Ada rasa sedih dan kecewa kalo memang ternyata benar tebakannya. Bagaimana bisa ia tak tahu kalo Michael sudah mempunyai seorang wanita? Bukankah selama ini dia single.. Bodohnya diriku, kata Tania dalam hati dengan menyesal.
Michael yang sekarang telah sadar bahwa ia bersama Tania segera menghampirinya. Ada rasa tak enak yang meliputi hati Michael.
"Tan ... maaf banget ya. Ini semua bener-bener ga disangka." kata Michael sangat menyesal
"Ga apa-apa kok." jawab Tania dengan kecewa dan Michael bisa melihat itu. Ia benar-benar tak enak dengan Tania.
"Yauda gini aja deh, kita ganti tempat makan lain aja? Biar suasananya lebih enak?" usul Michael
"Terserah kamu saja Michael." jawab Tania
Akhirnya mereka berdua kembali naik mobil dan terjebak dalam keheningan. Selama perjalanan tak ada percakapan sedikitpun diantara mereka. Entah karena takut atau karena tak enak hati.
Sesekali Michael melirik Tania yang hanya diam saja. Ia sangat tak enak atas apa yang terjadi tadi. Dengan penuh keberanian ia memulai percakapan.
"Tania ... kamu tau ... wanita yang ku panggil Elisa itu adalah pacar dari adikku, Mike. Kamu kenal adikku kan?" tanya Michael sambil melihat Tania dalam-dalam.
"Pacar adikmu?" tanya Tania sangat kaget. Ternyata ia salah sangka. Astaga, batin Tania dalam hati.
"Ia pacar adikku, si Mike, kamu kenal kan?" tanya Michael sekali lagi
"Ya aku kenal, aku pernah bertemunya sekali di book store." jawab Tania dengan rasa tak enak karena telah sangka tetapi ia juga senang karena ternyata yang ia pikir itu salah.
"Aku bener-bener ga nyangka sama Elisa itu. Dia tadi bilang ke Mike kalo dia mau jenguk temennya tapi ternyata apa? Aku pergokin dia sama cowo lain. Astaga bagaimana dengan Mike kalo sampe tahu semua ini?" kata Michael panjang lebar dengan ada sedikit emosi.
"Aku pikir Elisa itu pacarmu." kata Tania dengan suara pelan namun bisa didengar oleh Michael.
Walaupun Michael mendengar perkataan Tania tadi tapi ia berpura-pura tak tahu. Terbesit rasa bahagia di hatinya ketika mendengar ucapan Tania tadi. Astaga jangan-jangan, gumam Michael dalam hati.
Tania mengutuk dirinya sendiri karena telah berkata seperti itu. Semoga Michael tak mendengar, kata Tania dalam hati.
Suasana hening kembali ...
"Hm .. Tan .."
"Hm ... Mich..." tanpa sengaja mereka memulai obrolan bersamaan. Mereka berdua tertawa bersama karena terasa konyol bisa berbarengan seperti itu.
"Baiklah kamu duluan saja Tan ..." kata Michael mengalah sambil masih tertawa lucu
"Michael ... sebenernya aku ..."
Tiba-tiba saja handphone Michael berdering....
"Oh maaf Tania aku angkat dulu." kata Michael sembari mengangkat telepon
Astaga apa yang aku lakukan. Aku baru saja ingin memberitahu perasaanku ini. Mana boleh aku begitu. Aku ini wanita tak boleh mengungkapkan duluan, batin Tania menyesal
"Iya mam ... nanti aku ajak kok. Yauda ya mam lagi dijalan ni. Oke mam." kata Michael yang sempat didengar Tania saat akhir-akhir menelepon
"Sorry ya Tan .. dari mam tadi." kata Michael tak enak hati
"So tadi mau ngomonga apa?" sambung Michael lagi
"Aku uda keburu lupa hehehe." jawab Tania berbohong. Jangan sampai ia melakukan hal bodoh itu lagi.
"Dasar pikun kamu." kata Michael bercanda sambil tertawa
"Tania .. ada yang mau aku omongin." sambung Michael lagi. Kali ini dengan suara yang terdengar sangat serius. Tak ada tawa seperti tadi lagi.
"Ya? Mau ngomong apa?" jawab Tania gugup
"Sebenernya aku ..." kata Michael terhenti. Wajahnya tampak tegang dan terlihat sedikit pucat
Tania yang melihat raut wajah Michael hanya bisa terdiam sambil menanti apa yang ingin ia katakan. Jujur saja Tania merasa resah karena gugup. Ayo cepet katakan Michael, batin Tania dalam hati karena sudah tak sabar.


bersambung ...

Senin, 05 Agustus 2013

Indah Pada Waktunya (eps 2)

Tin ... Tin ... bunyi klakson mobil dari luar rumah Tania
Nah itu dia! "Mam aku pergi dulu ya." teriak Tania dari ruang tamu agar mamanya yang sedang memasak mendengar
"Oke honey. Salam untuk Michael ya." jawab mamanya
Ya benar, Tania emang sudah bertanya pada mamanya dan ternyata emang bener bahwa mama mereka saling kenal. Yang lebih tak disangka adalah bahwa mama mereka ternyata teman sejak SMA dulu. Siapa yang tahu bahwa dunia ini sempit? Selama ini Tania menyukai pria yang ternyata mamanya kenal dengan mamanya sendiri. It's a miracle! kata Tania setelah ia mengetahui semuanya.
Tania segera menghampiri mobil Michael dengan setengah berlari. Ia tak ingin membuat pria itu menunggu.
"Hei maaf lama ya" kata Tania setengah gugup sambil membuka pintu mobil
"Oh ga masalah kali Tan, so are you ready?" jawab Michael dengan memperhatikan Tania secara detail. Jujur saja ia agak terpukau dengan penampilan Tania saat itu. Cantik sekali, pikir Michael dalam hati.
"Tentu saja!" jawab Tania penuh semangat tapi ia berusaha tak menunjukinya. Malu dong kalo sampai Michael menyadari itu, nanti ia malah ga mau pergi bareng lagi, waswas Tania dalam hati.
"Emm .. Tania ..." kata Michael sambil menatap mata Tania
"Ya? Kenapa?" jawab Tania sangat gugup dengan muka panik. Ia takut bahwa penampilannya tak cukup bagus
"Kamu .... kamu cantik sekali malam ini." jawab Michael dengan senyum yang menawan
"Oh terima kasih." jawab Tania dengan setengah menunduk karena ia tak ingin memperlihatkan wajahnya yang telah merah. Tania emang selalu seperti itu jika merasa gugup.
"Baiklah kita berangkat sekarang." kata Michael karena telah menyadari kegugupan Tania. Ia tak ingin membuatnya menjadi tak nyaman. Michael segera menjalankan mobilnya.
Suasana menjadi hening ...
"Tan ..." Michael membuka percakapan. Jujur saja ia sungguh tak nyaman dalam kondisi hening seperti itu.
"Iya?" jawab Tania sambil melihat kearah Michael
"Aku ga nyangka loh ternyata mama kita saling kenal."
"Ah iya aku juga ga nyangka tau."
'Loh jadi kamu uda tau Tan?"
"Iya aku uda tau. Tadi aku penasaran banget jadi aku tanya mama langsung deh." jawab Tania dengan senyum manisnya
"Oh. Aku ga nyangka aja ternyata mereka temenan. Kok kita sebagai anaknya ga pernah tau ya." kata Michael sambil ketawa
"Ya juga ya. Tapi kok kamu bisa tau?"
"Ya jadi gini Tan, waktu itu aku jemput mama yang abis arisan terus pas uda sampe aku liat mama lagi ngobrol, nah pas kita uda didalam mobil mama kasi tau kalo wanita itu ternyata punya anak namanya Tania yang sekampus sama aku. Otomatis aku langsung tau dong kalo yang mama maksud itu Tania kamu. Abis aku kan taunya cuma kamu, ya walau kita ga pernah deket dulu." jawab Michael panjang lebar yang hanya di ikuti dengan anggukan Tania
"Begitu ya." jawab Tania malu.
"Iya Tan. Ternyata dunia sempit ya." lagi-lagi Michael menjawab dengan senyum menawannya
Sepanjang jalan mereka mengobrol sampai waktu tak terasa cepatnya. Tiba-tiba saja mereka sudah sampai ditempat tujuan.
"Baiklah ternyata kita udah sampai. Ga terasa banget." kata Michael sambil melepas sabuknya
Tania hanya tersenyum malu. Ia juga melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu untuk turun.
"Elisa ...... " teriak Michael
Tania yang dikejutkan oleh teriakan Michael langsung melihat ke arah yang dimaksudkan suara pria itu. Ia melihat seorang wanita bersama pria bertopi hijau dari kejauhan. Tania melihat arah penglihatan Michael untuk memastikan bahwa yang pria itu lihat adalah sepasang muda-mudi disana.
Tania semakin bingung saja. Siapa wanita itu? Kenapa Michael terlihat sangat marah? Apa mereka ada hubungan? tanya Tania berulang kali dalam hati.


bersambung ...

Indah Pada Waktunya (eps 1)

Seperti biasa siang itu Tania telah siap dengan laptop yang telah ia nyalakan dari tadi. Kemana ya dia? tanya Tania dalam hati. Tak lelah ia terus menunggu apa yang telah ia idamkan dari dulu.
"Hai ... Tania :)" tiba-tiba saja chat muncul
Dengan senyum yang merekah Tania segera membalas chat itu. Inilah yang ia tunggu dari tadi. Sebuah chat dari seseorang yang ia sukai dan kagumi sejak dulu.
"Hai juga Michael :) sedang apa kamu?" dengan penuh semangat Tania membalas chat itu. Tentu saja dengan senyum yang terus ia pamerkan. Senyumnya bisa tergolong manis. Bagaimana tidak? Ia memiliki kedua lesung pipit yang dapat melumpuhkan para pria jika melihatnya. Tapi entah mengapa itu tak berlaku bagi Michael. Aneh bukan ...
Tania memang telah menyukai Michael sejak mereka masih menduduki bangku SMA. Karena sekarang mereka telah menjadi mahasiswa maka sudah 3 tahun Tania menyimpan perasaan itu. Tapi Michael baru menanggapi Tania sekarang. Tentu saja itu tak membuat Tania kecewa karena ia bisa membuktikkan bahwa semua perasaannya tidak tersimpan sia-sia.
Sepuluh menit telah berlalu ...
"Aku lagi main game aja, Tan. Kamu sendiri lagi ngapain :)?"
"Oh kamu lagi main game, game apa :)?" Tania tahu kalo jam segini adalah jam Michael main game jadi ia maklum saja kalo cowo itu balas lama. Yang terpenting kan bisa chat sama Michael, itu yang selalu Tania pikirkan. Ia tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang telah datang.
"Udahan main game nya :D kamu uda makan belum?"
"Oh :D belum, kamu sendiri? :)" senyum Tania semakin merekah
"Mau ga dinner bareng aku? :)"
Tania senang bukan main, ia merasa seperti mimpi. Rasanya sulit sekali percaya kalo Michael mengajaknya dinner bareng. Astaga ini beneran? tanya Tania berulang kali sambil senyum-senyum sendiri.
"Hmm ... aku mau Michael :)" jawab Tania sangat gugup dengan muka yang sangat merah
 Kalo ada orang lain berada dekat Tania mungkin orang itu bisa mendengar suara detak jantungnya. Tania sangat gugup sekali. Ia bingung harus bersikap seperti apa ketika berada dekat dengan Michael. Layaknya wanita biasa jika mendapat kencan pertama pasti rasanya akan canggung sekali. Oh Tuhan aku harus bagaimana? pikir Tania dengan harap-harap cemas
"Oke deh :D jam 7 aku jemput kamu ya, Tan."
"Ya Michael :) tapi emangnya kamu tau rumah aku dimana?" jawab Tania agak sedikit bingung. Bagaimana bisa Michael ingin menjemputnya sedangkan tau rumahnya saja tidak. Ada rasa khawatir yang meliputi Tania. Bagaimana kalo ternyata rumah Michael daerah sini juga? Tania mulai menebak yang aneh-aneh
"Oh ya aku lupa kasi tau kamu. Jadi gini Tan ternyata mama kita saling kenal. Mama kamu namanya Anisa kan? :)"
"Ya bener tapi kok bisa? Seriusan Michael? Kok aku gatau sih?" jawab Tania semakin bingung
"Udah nanti kalo kita ketemu baru aku jelasin ya :D maaf ya aku ada urusan sebentar. See you tonight Tania :)"
"Oh oke deh :) see you tonight too Michael :)"
Tania bingung dengan semuanya. Ada perasaan senang tapi juga ada perasaan penasaran. Kenapa mama ga pernah kasi tau aku ya. pikir Tania dalam hati


bersambung ...