Kamis, 08 Agustus 2013

Indah Pada Waktunya (eps 4)

"Tania ... ayo bangun sayang sudah siang. Nanti kamu terlambat ke kampus sayang." panggil mama sambil mengetuk pintu kamar Tania
Tania yang mendengar panggilan mamanya itu segera tersadar. "Iya mam uda bangun kok ini." jawab Tania agar mamanya berhenti memanggil
"Ternyata cuma mimpi ya tadi huffff ..." kata Tania pelan dengan kecewa. Dengan lesu ia segera bangkit dari tempat tidurnya dan beranjak menuju kamar mandi.
Setelah selesai bersiap-siap untuk berangkat kampus Tania segera melangkah kebawah menemui mamanya untuk sarapan pagi bareng. Tania memang seperti itu walaupun papanya sudah tidak ada. Ya papanya telah meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya selama ini. Awal kepergian papanya Tania memang terus bersedih tapi sekarang perlahan ia sudah bisa menerima kepergian papanya. Walau terkadang ketika sarapan pagi seperti itu selalu mengingatkannya kembali dengan papanya.
"Yauda ya mam aku pergi kampus dulu. Dah mam ..." kata Tania sambil mengecup pipi mamanya ketika telah selesai sarapan pagi.
Tiba-tiba saja Tania termenung. Tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Jantungnya menjadi berdetak dengan cepat. Astaga, batin Tania dalam hati
"Hei ... Selamat pagi." sapa seorang lelaki sambil mendekati Tania. Ya laki-laki itu adalah Michael. Tania sungguh tak menyangka. "Apa aku masi bermimpi?" tanya Tania dengan dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk pipinya dengan agak keras
AUWWW!!! Tania meringis kesakitan akan ulahnya sendiri. Kini Tania yakin bahwa ia tak sedang bermimpi.
Michael yang melihat tingkah Tania hanya tersenyum saja. "Kamu ga apa-apa kan?" tanya Michael masi dengan senyumannya yang merekah.
"Hm ,,, iya." jawab Tania sangat gugup. Astaga apa yang baru ku lakukan? Pasti Michael illfeel deh, Tania mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
Tania semakin tak percaya ketika tiba-tiba saja Michael menggandeng tangannya. "Ayo berangkat." kata Michael sambil menarik Tania menuju mobilnya.
Tania dengan jantung yang masih berdetak dengan cepat hanya bisa terdiam dan pasrah ditarik seperti itu. Tubuhnya terasa lemas untuk menolak, lagipula memang ini yang Tania sering impikan. Sungguh tak diduga.
Ketika mereka sudah berada dalam mobil, Tania tetap berdiam. Sesekali ia melirik Michael, ia sungguh masih tak percaya.
"Kenapa?" tanya Tania pelan tapi mata nya tertuju pada mata Michael. Mereka sudah saling berpandangan.
"Entah mungkin ini terlihat bodoh tapi aku memimpikanmu Tania." jawab Michael sambil menatap balik mata Tania. Reflek saja Tania menjadi salah tingkah. Ia hanya tersenyum mendengar jawaban Michael.
"Sejujurnya saja aku juga memimpikanmu Michael." kata Tania pelan dengan kepala yang tertunduk. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
"Serius?" tanya Michael untuk memastikan karena ia sendiri tak percaya
Tania hanya mengangguk tanda mengiyakan. Mukanya menjadi merah. Apakah ini takdir? tanya Tania terus-menerus dengan hatinya
Suasana menjadi hening ...
Michael mencoba memberanikan diri untuk memegang tangan Tania. Ia menggenggamnya dengan penuh perasaan.
"Tania ..." kata Michael dengan hati-hati
Tania perlahan menoleh melihat mata pria itu, "Iya?"
"Aku suka kamu." Michael menatap mata Tania sangat dalam. Tania melihat kejujuran dimata itu.
Lagi-lagi Tania tertunduk dan diam.
"Kenapa? Apa kamu ga suka aku?" tanya Michael dengan nada yang terdengar begitu lemah
Tania tetap terdiam dan tiba-tiba saja air matanya jatuh. Michael merasakan air mata itu jatuh ditangannya. Ia tak mengerti kenapa Tania menangis.
"Kenapa? Kamu kok nangis?" tanya Michael hati-hati
"Ini tangis bahagia." jawab Tania sambil perlahan melihat pria itu lagi.
"Aku sudah menyukai kamu sejak dulu. Sudah lama sekali." sambung Tania lagi dengan senyuman yang sangat merekah
"Benarkah?" tanya Michael tak percaya. Ia sungguh bahagia, ia tak menyangka Tania bisa menyimpan perasaan untuknya selama itu. Sangking bahagianya Michael langsung memeluk Tania dengan penuh kasih.
Tania terkejut tetapi ia tak melawan. Ia senang karena sekarang pria yang ia sukai dari dulu sudah datang padanya. Entah apa alasannya Tania sungguh tak peduli. Yang pasti ia percaya bahwa ini adalah takdirnya. Indah pada waktunya ...


Tamat !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar