BAB 10
PENGARUH KEBUDAYAAN TERHADAP
PEMBELIAN DAN KONSUMENSI
A. Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan
adalah faktor penentu keinginan dan perilaku seseorang, terutama dalam perilaku
pengambilan keputusan dan perilaku pembelian. Dalam perkembangan
sejarah budaya konsumsi maka masyarakat konsumsi lahir pertama kali di Inggris
pada abad 18 saat terjadinya teknologi produksi secara massal. Teknologi
yang disebabkan oleh berkembangnya revolusi industri memungkinkan
perusahaan-perusahaan memproduksi barang terstandarisasi dalam jumlah besar
dengan harga yang relative murah.
Pada
saat yang bersamaan muncul revolusi kebudayaan di mana masyarakat secara
bertahap berubah dari masyarakat agraris menjadi masyarakat yang kekotaan,
karena dengan berpindahnya ke perkotaan maka budaya mereka berubah sehingga
berkembanglah tata nilai baru dan pola kehidupan yang baru akibat pekerjaan
yang berbeda. Gambaran lahirnya masyarakat konsumsi tersebut diatas,
menunjukkan pentingnya budaya dalam memahami perilaku konsumen.
Aspek-aspek budaya yang penting dapat diidentifikasi sehingga dapat digunakan
sebagai dasar untuk memahami bagaimana hal tersebut dapat mempengaruhi konsumen
dan tentunya dapat digunakan dalam mengembangkan strategi pemasaran yang lebih
efektif.
Menurut
Edward
Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang
didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat
istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota
masyarakat. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang
diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan
benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan
hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang ke semuanya
ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
B. Dimanakah Seseorang
Menemukan Nilai-Nilai yang Dianutnya?
Nilai
sosial adalah nilai yang dianut oleh suatu masyarakat
mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh
masyarakat. Untuk menentukkan sesuatu itu dikatakan baik atau buruk,
pantas atau tidak pantas harus melalui proses menimbang. Hal ini tentu sangat
dipengaruhi oleh kebudayaan yang dianut masyarakat. Tak heran apabila
antara masyarakat yang satu dan masyarakat yang lain terdapat perbedaan tata
nilai.
Ciri-ciri
pembentukan nilai-nilai sosial yang di anut :
1) Merupakan
konstruksi masyarakat sebagai hasil interaksi antar warga masyarakat.
2) Disebarkan
di antara warga masyarakat (bukan bawaan lahir).
3) Terbentuk
melalui sosialisasi (proses belajar).
4) Merupakan
bagian dari usaha pemenuhan kebutuhan dan kepuasan sosial manusia.
5) Bervariasi
antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain.
6) Dapat
mempengaruhi pengembangan diri sosial.
7) Memiliki
pengaruh yang berbeda antar masyarakat.
8) Cenderung
berkaitan satu sama lain.
Individu
tidak lahir dengan membawa nilai-nilai (values). Nilai-nilai ini
diperoleh dan berkembang melalui informasi, lingkungan keluarga, serta budaya
sepanjang perjalanan hidupnya. Mereka belajar dari keseharian dan
menentukan tentang nilai-nilai mana yang benar dan mana yang salah. Untuk
memahami perbedaan nilai-nilai kehidupan ini sangat tergantung pada situasi dan
kondisi dimana mereka tumbuh dan berkembang.
Nilai-nilai
tersebut diambil dengan berbagai cara antara lain :
1) Model
atau Contoh, dimana individu belajar tentang
nilai-nilai yang baik atau buruk melalui observasi perilaku keluarga, sahabat,
teman sejawat dan masyarakat lingkungannya dimana dia bergaul.
2) Moralitas,
diperoleh dari keluarga, ajaran agama, sekolah, dan institusi tempatnya bekerja
dan memberikan ruang dan waktu atau kesempatan kepada individu untuk
mempertimbangkan nilai-nilai yang berbeda.
3) Sesuka
Hati, adalah proses dimana adaptasi nilai-nilai ini
kurang terarah dan sangat tergantung kepada nilai-nilai yang ada di dalam diri
seseorang dan memilih serta mengembangkan sistem nilai-nilai tersebut menurut
kemauan sendiri. Hal ini lebih sering disebabkan karena kurangnya
pendekatan, atau tidak adanya bimbingan atau pembinaan sehingga dapat
menimbulkan kebingungan dan konflik internal bagi individu tersebut.
4) Penghargaan
dan Sanksi, perlakuan yang biasa diterima seperti
mendapatkan penghargaan bila menunjukkan perilaku yang baik, dan sebaliknya
akan mendapat sanksi atau hukuman bila menunjukkan perilaku yang tidak baik.
5) Tanggung
Jawab Untuk Memilih, adanya dorongan internal untuk
menggali nilai-nilai tertentu dan mempertimbangkan konsekuensinya untuk
diadaptasi. Disamping itu, adanya dukungan dan bimbingan dari seseorang
yang akan menyempurnakan perkembangan sistem nilai dirinya sendiri.
C. Pengaruh
Kebudayaan Terhadap Perilaku Konsumen
1. Model Perilaku Konsumen
Konsumen
mengambil banyak macam keputusan membeli setiap hari. Kebanyakan
perusahaan besar meneliti keputusan membeli konsumen secara amat rinci untuk
menjawab pertanyaan mengenai apa yang dibeli konsumen, dimana mereka membeli,
bagaimana dan berapa banyak mereka membeli, serta mengapa mereka membeli.
2. Faktor Budaya
Faktor
budaya memberikan pengaruh paling luas dan dalam pada perilaku konsumen.
Pemasar harus mengetahui peranan yang dimainkan oleh budaya, subbudaya, dan
kelas sosial pembeli. Budaya adalah penyebab paling mendasar dari
keinginan dan perilaku seseorang. Budaya merupakan kumpulan nilai-nilai
dasar, persepsi, keinginan dan perilaku yang dipelajari oleh seorang anggota
masyarakat dari keluarga dan lembaga penting lainnya. Setiap kebudayaan
terdiri dari subbudaya-subbudaya yang lebih kecil yang memberikan identifikasi
dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk para anggotanya. Banyak
subbudaya membentuk segmen pasar penting dan pemasar seringkali merancang
prosuk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Kelas-kelas
sosial adalah masyarakat yang relative permanen dan bertahan lama dalam suatu
masyarakat yang tersusun secara hierarki dan keanggotaannya mempunyai nilai,
minat dan perilaku yang serupa. Kelas sosial bukan ditentukan oleh satu
faktor tunggal, seperti pendapatan, tetapi diukur dari kombinasi pendapatan,
pekerjaan, pendidikan , kekayaan dan variabel lain.
3. Pengaruh Budaya yang Tidak
Disadari
Dengan
adanya kebudayaan, perilaku konsumen mengalami perubahan. Dengan memahami
beberapa bentuk budaya dari masyarakat, dapat membantu pemasar dalam
memprediksi penerimaan konsumen terhadap suatu produk. Pengaruh budaya
dapat mempengaruhi masyarakat secara tidak sadar. Pengaruh budaya sangat
alami dan otomatis sehingga pengaruhnya terhadap perilaku sering diterima
begitu saja.
4. Pengaruh Budaya dapat Memuaskan
Kebutuhan
Budaya
yang ada dimasyarakat dapat memuaskan kebutuhan masyarakat. Budaya dalam
suatu produk yang memberikan pertunjuk dan pedoman dalam menyelesaikan masalah
dengan menyediakan metode “Coba dan Buktikan” dalam memuaskan kebutuhan
fisiologis, personal dan sosial.
5. Pengaruh Budaya dapat Dipelajari
Budaya
dapat dipelajari sejak seseorang sewaktu masih kecil, yang memungkinkan
seseorang mulai mendapat nilai-nilai kepercayaan dan kebiasaan dari lingkungan
yang kemudian membentuk budaya seseorang. Berbagai macam cara budaya
dapat dipelajari. Misalnya dalam dunia industry, perusahaan periklanan
cenderung memilih cara pembelajaran secara informal dengan memberikan model
untuk ditiru masyarakat. Seperti biasanya iklan sebuah produk akan
berupaya mengulang kembali akan iklan suatu produk yang dapat menjadi
keuntungan dan kelebihan dari produk itu sendiri. Iklan itu tidak hanya
amampu mempengaruhi persepsi sesaat konsumen mengenai keuntungan dari suatu
produk, namun juga dapat mempengaruhi persepsi generasi mendatang mengenai
keuntungan yang akan didapat dari suatu kategori produk tertentu.
6. Pengaruh Budaya yang Berupa
Tradisi
Tradisi
adalah aktivitas yang bersifat simbolis yang merupakan serangkaian
langkah-langkah (berbagai perilaku) yang muncul dalam rangkaian yang pasti dan
terjadi berulang-ulang. Tradisi yang disampaikan selama kehidupan
manusia, dari lahir hingga mati. Hal ini bisa jadi sangat bersifat
umum. Hal yang penting dari tradisi ini untuk para pemasar adalah fakta
bahwa tradisi cenderung masih berpengaruh terhadap masyarakat yang menganutnya.
D. Struktur
Konsumensi
Secara
matematis struktur konsumsi yaitu menjelaskan bagaimana harga beragam sebagai
hasil dari keseimbangan antara ketersediaan produk pada tiap harga (penawaran)
dengan kebijakan distribusi dan keinginan dari mereka dengan kekuatan pembelian
pada tiap harga (permintaan). Grafik ini memperlihatkan sebuah pergeseran
ke kanan dalam permintaan dari D1 ke D2 bersama dengan
peningkatan harga dan jumlah yang diperlukan untuk mencapai sebuah titik
keseimbangan (equilibrium) dalam kurva penawaran (S).
E. Dampak
Nilai-Nilai Inti Terhadap Pemasar
1. Kebutuhan
Konsep
dasar yang melandasi pemasaran adalah kebutuhan manusia. Kebutuhan
manusia adalah pernyataan dari rasa kehilangan dan manusia mempunyai banyak
kebutuhan yang kompleks. Kebutuhan manusia yang kompleks tersebut karena
bukan hanya fisik (makanan, pakaian, perumahan, dan lain-lain), tetapi juga
rasa aman, aktualisasi diri, sosialisasi, penghargaan, kepemilikan. Semua
kebutuhan berasal dari masyarakat konsumen, bila tidak puas konsumen akan
mencari produk atau jasa yang dapat memuaskan kebutuhan tersebut.
2. Keinginan
Bentuk
kebutuhan manusia yang dihasilkan oleh budaya dan kepribadian individual
dinamakan keinginan. Keinginan digambarkan dalam bentuk objek yang akan
memuaskan kebutuhan mereka atau keinginan adalah hasrat akan penawar kebutuhan
yang spesifik. Masyarakat yang semakin berkembang, dibutuhkan perusahaan
yang bisa memuaskan keinginan sekaligus memenuhi kebutuhan manusia dengan
menebus keterbatasan tersebut, paling tidak meminimalisasikan keterbatasan
sumber daya.
3. Permintaan
Dengan
keinginan dan kebutuhan serta keterbatasan sumber daya tersebut, akhirnya
manusia menciptakan permintaan akan produk atau jasa dengan manfaat yang paling
memuaskan. Sehingga muncullah istilah permintaan, yaitu keinginan manusia
akan produk spesifik yang didukung oleh kemampuan dan ketersediaan untuk
membelinya.
F. Perubahan
Nilai
Budaya
juga perlu mengalami perubahan nilai. Ada beberapa aspek dari perlunya
perluasan perubahan budaya yaitu :
1) Budaya
merupakan konsep yang meliputi banyak hal atau luas. Hal tersebut termasuk
segala sesuatu dari proses pemikiran individu dan perilakunya. Ketika
budaya tidak menentukan sifat dasar dari frekuensi pada dorongan biologis
seperti lapar, hal tersebut berpengaruh jika waktu dan cara dari dorongan ini
akan memberi kepuasan.
2) Budaya
adalah hal yang diperoleh. Namun tidak memaksudkan mewarisi respond an
kecenderungan. Bagaimanapun juga, bermula dari perilaku manusia tersebut.
3) Kerumitan
dari masyarakat modern yang merupakan kebenaran budaya yang jarang memberikan
ketentuan yang terperinci atas perilaku yang tepat.
G. Perubahan
Institusi
Tradisi
adalah aktivitas yang bersifat simbolis yang merupakan serangkaian
langkah-langkah (berbagai perilaku) yang muncul dalam rangkaian yang pasti dan
terjadi berulang-ulang. Tradisi yang disampaikan selama kehidupan manusia, dari
lahir hingga mati. Hal ini bisa jadi sangat bersifat umum. Hal yang penting
dari tradisi ini untuk para pemasar adalah fakta bahwa tradisi cenderung masih
berpengaruh terhadap masyarakat yang menganutnya. Misalnya yaitu natal, yang
selalu berhubungan dengan pohon cemara. Dan untuk tradisi-tradisi misalnya
pernikahan, akan membutuhkan perhiasan-perhiasan sebagai perlengkapan acara
tersebut.
Sumber :