There Is A Way
Malam itu Susi membantu ibunya membuat lemper untuk dijual esok pagi. Pekerjaan inilah yang selalu dilakukan Susi dan ibunya demi memenuhi kebutuhan hidup. Pahit memang tapi apa boleh buat, hanya ini yang dapat mereka lakukan. Apapun pekerjaannya yang penting kebutuhan mereka terpenuhi. Ketika Susi sedang membuat lemper matanya selalu melirik ke arah ibunya. Begitu pilu melihat ibunya yang sudah tua tetap harus bekerja sampe selarut ini.
“Bu ini sudah malam sebaiknya ibu tidur saja. Biar Susi yang selesaikan ini semua.” Kata Susi lirih kepada ibunya.
“Tak apa nak. Ibu sudah biasa dengan hal seperti ini.” Jawab ibu sambil tersenyum melihat Susi.
“Tapi bu …”
“Sudahlah nak ibu benar taka pa kok.”
Susi hanya bisa diam. Ibunya memang sangat bersemangat bekerja. Walau sudah tua tetapi semangatnya seperti anak muda. Susi pun juga tak mau kalah dengan ibunya. Dengan itu Susi langsung lebih bersemangat untuk membuat lemper agar dapat selesai secepat mungkin. Susi tak mungkin membuat ibunya bekerja terlalu lama. Bagaimanapun pekerjaan ini sesungguhnya begitu berat dijalani oleh seorang ibu yang sudah tua.
Keesokan paginya Susi terbangun. Suara kokok ayam yang membangunkannya. Seperti pagi yang lalu Susi segera bangun dan menuju dapur. Dia segera menyiapkan lemper yang akan dia jual pagi ini. Dengan semangat baru dia segera mandi dan menyiapkan sepeda yang akan dia kayuh nanti. Sebelum pergi Susi tak lupa untuk berpamitan dahulu kepada ibunya. Susi masuk ke kamar ibunya lalu dengan lirih menatap ibunya.
Begitu lesu yang tampak pada ibunya. Sungguh tak tega Susi melihat kondisi ibunya yang seperti itu. Karena mengingat waktu Susi segera tersadar dan langsung mencium kening ibunya dan mencium tangan ibunya. Walau ibunya masih tertidur lelap tapi Susi tetap melakukan kewajibannya itu.
Ketika sedang ingin berangkat dengan mengayuh sepeda tuanya, Susi mendengar suara seorang nenek tua. Susi segera mencari asal suara tersebut. Ternyata dari kejauhan dia melihat nenek tua yang terjatuh. Dengan cepat Susi segera mengayuh sepedanya dan mendekati nenek tua tersebut.
“Astaga nenek. Ada apa ini? Mengapa bisa sampai terjatuh?” kata Susi kepada nenek tua tersebut.
“Ini cu … nenek lapar sekali. Perut nenek sakit. Nenek sudah tidak kuat lagi untuk berjalan cu.” Jawab nenek tua itu dengan lemas.
Tanpa basa-basi lagi Susi segera membantu nenek tua itu. Dia membantu nenek tua itu untuk berdiri lalu memapahnya ke kursi tua yang berada tidak jauh dari tempat nenek tua itu jatuh. Ketika Susi menyadari lagi kalau nenek tua itu belum makan, dia dengan kebaikannya segera memberi nenek tua itu 5 lemper.
“Ini nek ada sedikit makanan buat nenek. Setidaknya ini bisa mengurangi sakit perut nenek.”
“Terima kasih banyak cu … Semoga Tuhan membalas kebaikanmu ya cu.”
“Iya sama-sama nek.” Jawab Susi dengan sangat bahagia. Dia senang sekali karena bisa membantu nenek tua itu. Meski tanpa mendapat uang tapi Susi tetap merasa untung karena dia bisa menanam kebaikannya itu.
“Yauda ya nek Susi tinggal dulu. Susi mau jualan lemper ini.”
“Iya cu .. hati-hati ya. Semoga jualanmu laku sekali hari ini.”
“Terima kasih banyak nen doanya.” Jawab Susi sambil tersenyum dan perlahan mulai meninggalkan nenek tua itu.
Diperjalanan ketika Susi sedang menjual lempernya, dia melewati sebuah sekolah, SMA Cerah Sejahtera. Dari dulu sampai sekarang Susi sangat ingin untuk bisa belajar lagi. Agar dia mendapat ilmu lebih dan kemudian bisa dia gunakan untuk dimasa depan yang lebih baik. Tapi takdir menjawab apa. Kini Susi hanya bisa berjualan lemper saja. Walaupun takdirnya tidak bagus tapi dia tetep memiliki semangat untuk menuntut ilmu lagi. Perlahan Susi menepi dan menaruh sepedanya di tembok dekat pagar sekolah itu. Kemudian dia masuk dan mulai mengintip lewat jendela. Dia melihat pandangan para siswa tertuju pada guru yang sedang menjelaskan di depan kelas mereka. Ternyata pelajaran Matematika. Pelajaran ini termasuk pelajaran yang sangat disukai Susi sejak SD. Ya walau hidup Susi serba kekurangan tapi dia dulu juga pernah merasakan bagaimana rasanya duduk dibangku sekolah. Tapi karena biaya sekolah yang semakin mahal akhirnya Susi memilih untuk tidak melanjutkan sekolahnya lagi.
Susi juga ikut memperhatikan guru yang sedang menjelaskan. Dengan penuh semangat dan focus dia melihat dan menghafal rumus apa saja yang di terangkan.
“Hei sedang apa kamu?”
Mendengar suara tersebut Susi tersontak kaget. Ketika itu Susi segera turun dan berdiri dengan tegangnya.
“Saya tanya sedang apa kamu tadi?” kata seorang guru lain yang mengajar disekolah itu juga.
“Maaf pak anu saya tadi hanya melihat guru menjelaskan.” Jawab Susi dengan penuh ketakutan.
“Sudah pergi sana! Jangan mengganggu proses belajar mengajar disini! Sudah sana!” bentak guru itu.
Dengan mata yang berkaca-kaca Susi segera berlari meninggalkan sekolah itu. Dengan cepat dia mengayuh sepeda tuanya. Tak habis pikir dengan apa yang baru saja dia alami. Apakah salah kalau dia ingin mendapat ilmu walau dia tak bayar? Bukankah niat yang lebih penting dalam hal belajar? Tanpa sadar Susi menangis tanpa henti. Sungguh sakit hatinya diperlakukan seperti itu. Mungkin cara dia salah mengendap-ngendap ke sekolah itu, tapi apakah tak bisa di omong baik-baik? Bukankah guru tersebut berpendidikan. Harusnya etikanya lebih terjaga.
Sejak kejadian itu Susi tak pernah lagi kembali kesekolah itu. Mungkin bukan cara seperti itulah dia bisa mendapat ilmu. Masih banyak cara lain bukan?
Singkat cerita keesokan harinya ketika sedang berjualan lagi Susi melewati sebuah rumah yang sangat mewah. Dia melihat di tempat sampahnya ada banyak buku yang dibuang. Karena penasaran Susi segera mendekati tempat sampah itu. Dengan penuh gembira Susi segera mengambil semua buku-buku itu. Bagaimana tidak? Ternyata buku itu adalah buku pelajaran yang sudah tidak dipake oleh pemilik rumah. Dia yakin dengan cara seperti inilah dia bisa menuntut ilmu lagi walau hanya dengan mempelajari dari buku saja.
Karena itu setiap kali Susi pulang dari berjualan lemper, dia langsung menuju kamar dan mulai membuka buku-buku yang dia temukan itu. Susi sangat senang sekali. Dengan penuh keyakinan Susi terus belajar tanpa henti sampai akhirnya dia bisa menguasai semua materi yang ada dibuku itu. Susi juga tak lupa berdoa ketika sudah selesai belajar agar diberi kemudahan dan kelancaran dalam mempelajari semua materi di buku itu.
Hingga suatu hari ketika dia sedang mengayuh sepedanya, Susi melihat ada spanduk dari kejauhan. Dia penasaran lalu mendekat. Ternyata di spanduk itu tertulis ada lomba PINTAR yang di adakan di tempat yang tidak jauh dari rumah Susi. Acara itu diselenggarakan oleh pemerintah guna membantu remaja yang memiliki niat untuk belajar. Susi tak melewati kesempatan itu. Dia sangat yakin inilah saat nya dimana saat semua cita-cita nya terwujud.
Sejak hari itu dia semakin rutin untuk belajar. Dia selalu menggunakan waktu yang ada untuk belajar. Ibunya pun juga mendukung keinginan anaknya itu. Bagaimanapun juga ibu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya.
Hingga hari itu tiba, Susi datang ketempat diadakan lomba tersebut. Dengan bimbingan Susi melakukan registrasi terlebih dahulu. Walau dia tak mengerti sekali tapi dia tak khawatir karena ada yang membimbing.
Dalam lomba itu peserta diminta untuk mengisi 100 soal dalam waktu 2 jam. Jika jawaban benar maka peserta akan mendapat +2, jika jawaban salah maka peserta mendapat nilai -1 dan jika tidak ada jawaban maka bernilai 0. Susi tidak yakin bahwa dia bisa menjawab semua soal itu dalam waktu 2 jam tapi dia tak pernah menyerah sebelum berperang. Maka dengan semua pengetahuan yang sudah dia dapat selama ini, dia yakin bahwa dia pasti bisa. Tak lupa juga sebelum lomba dimulai dia berdoa terlebih dahulu.
Singkat cerita waktu lomba telah dimulai. Susi mengerjakan semua soal itu dengan teliti. Soal yang dia tidak ketahui jawabannya dia akan lewati dulu. Susi mengerjakan soal yang lebih mudah bagi dia terlebih dahulu.
“Waktu tinggal 10 menit lagi!” teriak seorang laki-laki untuk memberi tahu pada semua peserta.
Susi sadar waktu tinggal sedikit, maka dia tak menyia-nyiakan waktu tersebut. Sebisa mungkin Susi terus mengerjakan soal tersebut. Susi terus bersikap tenang agar tetap focus.
“OKEEEE!!! Waktu habis …!!!!”
Dengan cepat Susi segera berhenti dan mengangkat kedua tangannya agar para juri melihat bahwa Susi sudah tidak mengerjakan soal itu. Kemudian para juri mengambil semua lembar soal para peserta dan disatukan. Sesuai pengumuman hasil pemenang akan diumumkan 5 hari setelah lomba.
Susi tak sabar untuk mengetahui bagaimana hasilnya. Tapi dari awal Susi sudah menanamkan prinsip bahwa apapun hasilnya pasti itu yang terbaik. Yang penting dia sudah melakukan nya dengan benar dan teliti.
Hari yang ditunggu telah tiba. Susi pergi ketempat dimana lomba itu di adakan. Disitu sudah banyak peserta yang 5 hari lalu mengikuti lomba. Mereka sangat menunjukan bahwa mereka begitu tegang menanti hasilnya. Dan ketika hasilnya sudah ingin diucapkan, semua para peserta sudah berkomat-kamit dalam doa supaya salah satu dari mereka yang menang.
“Dan pemenangnya adalah …….. SUSIIIIIIII DARI DESA MAJU!!!!” kata juri itu dengan penuh semangat.
Susi yang mendengar sampai tak habis pikir. Namanya yang disebutkan oleh juri itu berarti dialah pemenangnya. Susi sangat senang sekali karena semuanya tak sia-sia. Karena terlalu bahagianya Susi sampai tak sadar bahwa dia menangis. Semua orang disekelilingnya memberikan ucapan selamat dan pelukan hangat. Bagi semua orang Susi memang pantas mendapatkan semua ini karena keinginannya sungguh besar sekali. Keinginan belajarnya terwujud saat itu juga.
“Dan pemenang akan mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di sekolah SMA MUTIARA.” Lanjut juri itu lagi.
Susi sungguh tak menyangka bahwa hadiahnya adalah beasiswa. Sungguh dia merasa seperti sedang bermimpi. Tuhan sangat adil. Memang apapun keinginan kita, sebesar apapun keinginan kita jika kita bersungguh-sungguh mewujudkannya pasti akan ada jalan. THERE IS A WAY IF YOU WANT!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar